bangku sekolah. Hatinya sangat girang sebab terpilih mengikuti pendidikan pada sekolah atlet di Ragunan Jakarta.
Sungguh bangga bisa berlatih sepakbola demi menjadi bintang Indonesia.
Kabar bahwa Djen hendak berangkat ke Jakarta sudah tersebar di Tulehu. Dia juga sudah menerima tas, pakaian
olahraga, sepatu sepakbola, dan sebagainya. Orang tua dan sanak keluarga sudah mempersiapkan keberangkatannya ke
Jakarta, yang tinggal satu hari.
Malam terakhir di Tulehu, persiapan ke Jakarta sudah rampung lahir-batin. Menjelang pukul 24.00 WIT, datanglah
beberapa orang tamu dari Kota Ambon. Mereka adalah utusan PSSI Maluku, yang datang membawa Surat Keputusan
PSSI Maluku.
Djen membaca SK tersebut. Dirinya kaget dan marah sebab SK tersebut berisi keputusan pergantian nama pelajar yang
dikirim ke Ragunan. Saking kecewa dan marah, Djen mengambil parang dan mencincang sepatu sepakbola, tas, dan
kostum olahraga yang diterimanya.
Pelampiasan emosi Djen itu membuat utusan PSSI sempat panik dan hendak lari. Djen mampu mengendalikan diri. Dia
tidak membuat tindakan lain kecuali berjanji tidak akan bermain sepakbola lagi. Sejak itulah, Djen gantung sepatu.
Padahal, dia masih muda dan punya potensi menjadi pemain hebat.
IBUNDA
Setelah lulus sekolah, Djen kemudian menikah dengan gadis Tulehu Salma Tehupelasury. Perkawinan itu menghasilkan
enam buah hati. Putra bungsu adalah Hamsa Medari Lestaluhu. Djen dan Salma memang menyimpan `dendam
ragunan` dan tidak pernah mengarahkan anak-anaknya menjadi pemain sepakbola. Akan tetapi, Salma membuat tindakan
berbeda kepada si bungsu. Ia mendorong anaknya menjadi pemain sepakbola, sebagaimana lelaki Tulehu.
`Beta selalu bilang Hamsa agar latihan, latihan, dan latihan,`kata Salma kepada Media Online Maluku Post di Tulehu, di
Tulehu, Minggu (23/12).
Hamsa juga mengaku, ayahnya tidak pernah memberi dukungan agar dirinya terjun ke sepakbola. Dia menyebut sang
bunda sebagai motivator utama yang menjadikannya sebagai pemain sepakbola.
Berbeda dengan kebanyakan bintang sepakbola Tulehu yang bermula dari klub tenar Tulehu Putera, Hamsa justru
memulai karier dari klub Hurnala.
`Beta mulai main bola di Persenal Hurnala. Waktu SD, beta sudah bela Maluku dalam kejuaraan sepakbola O2SN di
Surabaya, tahun 2011. Kami tidak juara, tetapi ketika SMP, beta terpilih ke Malaysia. Sebab itu beta sekolah SMP di
Malaysia sampai lulus,` kata Hamsa.
AIR MATA
Meskipun anti sepakbola, namun Djen tidak keberatan melihat si bungsu menekuni sepakbola. Dia baru merasa bangga
setelah sang anak menoreh prestasi demi prestasi mengagumkan.
Djen menyebutkan, dirinya hanya memberi sedikit nasehat kepada Hamsa. Nasehat itu adalah sebuah petunjuk agar
bermain sepakbola secara sederhana dan biasa-biasa saja.
`Jangan main kasar. Jangan paksa. Main biasa-biasa saja,` kata Djen kepada Hamsa selalu.
Lain lagi reaksi sang bunda. Ketika Hamsa sudah menjadi bintang junior, dirinya menjadi sangat terharu. Rasa haru paling
dalam adalah saat anaknya menjadi pemain terbaik dalam Piala Menpora, 2016 dan ikut mengantar Jawa Barat
memboyong Piala Menpora.
Puncak keharuan sang bunda adalah manakala Hamsa menyatakan akan membangun rumah baru untuk menggantikan
rumah tua nan sederhana, berlantai tanah, dinding papan, dan atap daun sagu.
`Beta seng bisa bilang lae. Beta sangat bangga,` kata Salma dengan mata berkaca-kaca.
Salma menyatakan, dirinya sangat bangga karena dalam usia sangat muda, anaknya sudah sanggup membangun rumah.
`Dia juga bilang mau membuat ayah dan bunda bisa naik haji. Ini sangat membanggakan,` kata Salm
No comments:
Post a Comment