“Saat keluarga PKI kehilangan orangtuanya dan ingin menahlilkan atau slametan keluarganya yang ditangkap (hilang atau dibunuh), tidak ada yang berani untuk datang karena takut dituduh PKI, maka yang berani datang adalah orang kampung sebelahnya yaitu orang-orang NU,” ujar Agus yang menjadi narasumber di acara tersebut.
Agus kembali menegaskan, meskipun para kiai dan warga NU banyak yang menjadi korban pembantaian oleh kelompok G30S/PKI, tetapi para kiai justru banyak mengurus janda dan anak yatim keturunan PKI yang keluarganya meninggal dalam konflik horisontal tersebut.
“Para kiai tidak politis, juga tidak terlalu ideologis, mereka paham kewajiban agama seperti apa dalam melihat janda dan anak yatim yang terlantar. Jadi murni kemanusiaan,” tegas Penulis Buku Lubang-lubang Pembantaian yang terbit tahun 1990 ini.
Agus mengungkapkan, bahwa di Blitar, anak-anak yang ayahnya dibunuh atau ditangkap karena tuduhan PKI, diangkat sebagai anak oleh para kiai. Bahkan ada kiai yang mengangkat anak keturunan PKI hingga 30 orang dan menyandang nama kiai di belakangnya. Di sekolahanpun orangtuanya adalah kiai tersebut.[nuo/mm]
No comments:
Post a Comment