Rechercher dans ce blog

Friday, June 30, 2017

Buntut Panjang, Soal Postingan Viral Bajaj Tak Boleh Masuk Hotel Le Grandeur


Infoteratas.com - Warganet Indonesia sedang hangat membincangkan keluhan penginap Hotel Le Grandeur, Mangga Dua, Jakarta yang melarang bajaj masuk ke depan lobi hotel. 

Persoalan ini bermula saat warga Semarang, Jericho Prasetyo menginap bersama keluarga di hotel bintang lima tersebut. Jericho keluar hotel mengajak anak-anaknya berkeliling sekitar hotel menggunakan bajaj pada Selasa 27 Juni 2017.

Dalam postingan di akun Facebooknya, Jericho menuturkan, dia mengajak anaknya berkendara dengan bajaj dengan tujuan menyenangkan buah hatinya, sebab di kota Semarang tak ada bajaj.

Setelah puas berkeliling dengan bajaj, Jericho mengarahkan pengemudi bajaj untuk masuk ke depan lobi hotel dan berencana berfoto di depan bajaj sesampai di lobi. Namun, saat di depan lobi, pegawai hotel melarang bajaj untuk berada di depan lobi. Alasan pegawai tersebut, bajaj termasuk kendaraan yang dilarang masuk ke depan lobi hotel. 

Jericho langsung protes, sebab sepengetahuannya di depan hotel tak ada larangan bagi bajaj masuk depan lobi hotel. Selain itu, dia dan anaknya adalah penginap hotel tersebut. 

"Padahal dalam bajaj ada tamu hotel, seharusnya pihak hotel mempertimbangkan kembali peraturannya, karena ini menyangkut budaya seni Jakarta," tulisnya. 

Jericho menumpahkan kekecewaannya, sebab melarang bajaj masuk ke depan lobi hotel. Jericho kemudian mengunggah video detik-detik bajaj dilarang masuk ke depan lobi hotel di akun Facebooknya. 

Menanggapi keluhan tersebut, perwakilan hotel mengakui memang terjadi peristiwa ketegangan antara Jericho dengan salah satu pegawai Hotel Le Grandeur tersebut. 

Direktur Komunikasi Marketing Hotel Le Grandeur Mangga Dua Jakarta, Erwina mengakui, respons tim membuat tak nyaman tamu hotel tersebut.

"Kami meminta maaf sekali atas respons tim saya yang kurang berkenan. Memang respons tim saya begitu, mohon dimaafkan," ujar Erwina kepada VIVA.co.id, Jumat 30 Juni 2017.

Erwina mengatakan, usai kejadian itu, dia langsung mengklarifikasi kepada pegawai yang melarang bajaj masuk. Menurut pengakuan pegawai kepada Erwina, sang pegawai itu mengaku kaget, baru kali itu ada bajaj masuk ke depan lobi hotel, sehingga langsung sigap melarang dan lupa menggunakan kata-kata yang sopan. 

"Responsnya kaget, akhirnya terlupakan permohonaan maaf (ke Jericho). Tim saya sudah mengaku salah dan hanya kaget karena sebelumnya tak pernah terjadi (bajaj masuk lobi)," ujarnya. 

Bukan soal kaya miskin

Erwina menegaskan, langkah yang diambil oleh tim hotel menegur bajaj masuk ke depan lobi hotel sudah sesuai dengan prosedur. Dia menjelaskan, tim memang menjalankan aturan hotel yang melarang kendaraan selain roda empat masuk ke depan lobi hotel. 

"Memang aturannya angkutan roda empat yang boleh masuk (lobi hotel). Bajaj tak ada di dalam sana. Itu aturan sudah praktik umum di mal, hotel. Aturan itu sudah diterapkan di seluruh hotel bintang lima di Jakarta," ujarnya.

Erwina menduga protes Jericho itu lantaran tak tahu aturan yang sebenarnya di hotel tersebut. Mengingat Jericho adalah warga Semarang yang berlibur ke Jakarta.

Pelarangan bajaj masuk lobi, menurut Erwina, bukan bentuk diskriminasi, namun demi kenyamanan lingkungan dan tamu Hotel Le Grandeur lainnya.

"Ini kan sama bicara duren. Ini kan buah khasnya Indonesia memang dilarang dibawa (di hotel). Hotel ini area ada guest lain di sana, perlu dibuat aturan untuk kenyamanan di sana, agar terjaga maka harus ada aturan," kata dia.  

Soal hotel lainnya yang membolehkan bajaj masuk di lobi atau memajang bajaj sebagai dekorasi ruangan di hotel, menurut Erwina itu tergantung dari strategi pemasaran masing-masing hotel.

Dia menegaskan, pelarangan bajaj masuk lobi hanya bicara penegakan aturan bukan terkait dengan diskriminasi status sosial.

"Kami tak melihat orang ini kaya atau miskin, kalau naik bajaj (lalu disebut) pasti miskin, terus tak boleh naik (lobi). Kalau semisal ada tamu hotel yang naik mobil butut pun, kami akan layani," tutur Erwina.

Erwina menuturkan, perwakilan hotel sudah meminta maaf langsung ke Jericho dan sang tamu tersebut menerima permohonan maaf tersebut.

Dia sudah berbicara langsung dengan Jericho usai peristiwa tersebut, dan yang bersangkutan tak kapok untuk menginap lagi di Hotel Le Grandeur. Jericho hanya kecewa dengan satu tim hotel dan puas dengan pelayanan tim yang lainnya.

Masukan bagus 

Di sisi lain, Erwina memandang positif kritik Jericho soal bajaj sebagai bagian budaya yang harus dilestarikan di ruang publik di DKI Jakarta. Dia mengaku hotelnya terbuka dengan ajakan dan masukan Jericho tersebut. 

Namun, tentunya pelestarian bajaj dengan masuk ke depan lobi hotel itu harus dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata atau dinas terkait lainnya. 

"Apa yang diberikan pak Jericho itu sebetulnya baik. Misalnya setahun sekali delman dan bajaj dalam rangka memeriahkan ultah Jakarta, boleh dong (masuk depan lobi hotel). Kami kan taat hukum, tergantung dinas juga," katanya. 

Berikut ini status Jericho yang ditulis di facebook. Status ini sudah dibagikan hampir 9 ribu netizen.

Sangat disayangkan hotel mewah bintang5 Le Grandeur, Mangga2, Jkt, melarang Bajaj msk di lobby dpn hotel.

Kami sbg tamu merasa tersinggung & sgt tdk nyaman diperlakuan dg kasar, tanpa ada rasa hormat baik kpd kami sbg tamu maupun kpd Bapak Bajaj yg sdh lanjut usia. Pihak hotel sgt tdk menghargai kami dg cara mengusir dg tdk sopan & sangat kasar.
Kejadian bermula dari keinginan anak kami untuk naik bajaj, krn di Semarang tdk ada bajaj. Maka kami berinisiatif untuk mencari bajaj untuk anak kami pergi jalan2 keliling sekitar hotel naik bajaj.

Kami memesan Bajaj & langsung kami bayar lunas agar bapak Bajaj senang mengantar kami & anak-anak keliling sekitar hotel.
Ternyata bapak Bajaj tsb senang dg tips yg kami kasih, maka Bapak Bajaj mengantar kami keliling mangga2
Stlh smp dpn hotel, bpk Bajak tdk berani masuk lobby, kami minta bapak bajaj msk & antar kami smp msk dpn lobby hotel.
Karena berencana mau ajak anak-anak berfoto didepan bajaj.

Tapi siapa sangka, saat didepan lobby justru kami diusir oleh pegawai hotel Le Grandeur. Tanpa basa-basi, tanpa permintaan maaf & penjelasan yg baik pegawai Hotel Le Grandeur tanpa mempedulikan kami sbg tamu hotel. Pegawai tersebut terus menyuruh Bajaj pergi dari lobby. Adapun didpn hotel tidak ada tanda larangan bg Bajaj untuk masuk Lobby Hotel.

Sangat ironis sekali bhw Pemprov DKI melestarikan Bajaj sbg aset daerah & mjd maskot / sbg ciri khas kota jakarta. Namun oleh Hotel Le Grandeur, Jakarta sgt tidak dihormati keberadaannya.

Padahal dalam Bajaj ada tamu hotel, seharusnya pihak hotel mempertimbangkan kembali peraturannya, karena ini menyangkut budaya seni Jakarta. Anak saya tidak akan minta naik bajaj jika bajaj itu ada di kota Semarang. Namun karena Bajaj adalah seni atau ciri khas kota Jakarta maka kami naik Bajaj bukan karena mau pergi ke suatu tempat, tapi kami naik Bajaj karena ingin merasakan nikmatnya naik kendaraan khas kota Jakarta tersebut.

Kami dtg ke Jakarta krn tujuan wisata bukan bisnis, shg Jakarta sudah seharusnya memikirkan wisata, termasuk Bajaj sbg sebuah daya tarik wisata selain Ancol, Monas, dll.
Perlu dipertimbagan kembali oleh pihak Hotel Le Grandeur melarang Bajaj masuk lobby, karena perijinan Hotel ada dibawah Dinas Pariwisata, sehingga pihak hotel harus tau mana yg berhubungan dg wisata, mana yang sekedar bisnis semata.

Ini kekecewaan kami thd Hotel Le Grandeur kami angkat agar dpt mjd kritikan bagi Pihak Managemen Hotel Le Grandeur & jd masukan jg bg Pemprov DKI untuk memperlakukan Bajaj bukan sbg kendaraan umum biasa tapi sbg ciri khas kota Jakarta dg tujuan wisata.
Maka bersama ini sy meluapkan kekesalan sy & kekecewaan dg mengupload Video, yg sebenarnya dibuat untuk mjd dokumen kenangan manis bg anak2 sy pernah naik bajaj di 

jakarta pd hari Selasa, 27 Juni 2017, tapi mjd video kepahitan kami thd hotel Le Grandeur, jakarta. Dan nyatanya kami tdk jd berfoto depan bajaj gara2 Pihak Hotel yg dg sgt arogan & semena2 mengusir kami yg adl tamu hotel.

Terima kasih Bapak Bajaj yg telah mengantar kami keliling Mangga Dua, diluar permintaan sy yg cukup mutar depan hotel saja. maaf telah merepotkan bapak ikut dlm keributan kecil, pdhl bapak barusan sholat di Masjid.

Buat pegawai & pihak managemen Hotel Le Grandeur, anda harus belajar memperlakukan tamu dg baik, tidak arogan & tidak berlaku kasar thd orang lain.

Bantu Share ya, Semoga tulisan ini dpt dibaca sampai Gubernur Djarot & Gubernur akan datang Anies & Sandiga Uno, Kapolda DKI Jakarta, DLLAJR, Dinas Pariwisata dan Managemen Hotel Le Grandeur.
Ditulis dari kamar 1405
Hotel Le Grandeur, Mangga Dua

Jakarta.


Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Buntut Panjang, Soal Postingan Viral Bajaj Tak Boleh Masuk Hotel Le Grandeur : http://ift.tt/2tzJ4b2

No comments:

Post a Comment

Search

Featured Post

5 Negara yang Terkenal akan Street Food Nikmat Mereka - IDN Times

Berwisata ke luar negeri tak lengkap rasanya jika tidak mencoba berbagai hal yang khas dari negara tersebut. Mulai dari tempat wisata , b...

Postingan Populer