Rechercher dans ce blog

Monday, July 31, 2017

Polda Malut Selamatkan Uang Negara Miliaran Rupiah

BERITA MALUKU. Polda Maluku Utara (Malut) menyelamatkan uang negara sebesar Rp 6.441.123.955 dari penanganan enam kasus tindak pidana korupsi sepanjang semester I 2017.

"Terhitung Januari sampai Juli, sebanyak Rp6.441.123.955 kerugian negara diselamatkan. Itu total uang yang berhasil diselamatkan Polda beserta jajaran Polres," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Malut, Kombes Pol Masrur di Ternate, Selasa (1/8/2017).

Menurut dia, tidak menutup kemungkinan dalam tahun ini masih ada kerugian negara yang dapat diselamatkan.

"Ini baru pada semester pertama, tidak menutup kemungkinan masih kerugian negara dari kasus yang lain yang akan kita selamatkan," katanya.

Ia menyatakan Polda Malut menargetkan kasus-kasus korupsi yang ditangani dapat dituntaskan, karena memang menjadi prioritas.

Ditreskrimsus Polda Malut tahun ini telah melimpahkan empat kasus korupsi yang ditangani, di antaranya kasus perjalanan haji di Kemenag senilai Rp5,8 miliar, korupsi pembangunan masjid raya Sanana senilai Rp5,5 miliar yang melibatkan mantan Bupati Kepulauan Sula AHM.

Direskrimsus juga telah menuntaskan kasus korupsi honor para imam di Kabupaten Halmahera Timur senilai Rp650 juta dengan tersangka berinisial JK dan BRT, dengan kerugian negara Rp400 juta serta dugaan korupsi distribusi beras raskin bagi masyarakat Pulau Obi tahun 2014 dengan tersangka Camat Obi Utara berinisial M, dengan kerugian negara senilai Rp212 juta.

Sebelumnya, Polda Malut telah menyerahkan 16 kasus korupsi ke Kejaksaan pada 2016, di antaranya pembangunan jalan poros penghubung di Desa Fida melalui dana APBD tahun 2012 di Kabupaten Halmahera Selatan dengan tersangka SS dan RH, dan pembangunan Bandara Bobong senilai Rp4,6 miliar dengan tersangka EES, M dan HN.

Kasus Penusukan Anggota TNI, Terdakwa Dihukum Seumur Hidup

BERITA MALUKU. Majelis hakim Pengadilan Negeri Ambon menjatuhkan vonis penjara seumur hidup terhadap Rendy Kakilete, terdakwa penusuk anggota TNI dari Yonif 726/Tamalatea, Kodam XIV Hasanuddin, yang sedang di-BKO ke Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah.

"Menjatuhkan pidana penjara seumur hidup terhadap terdakwa karena terbukti melanggar pasal 340 ayat (1) KUH Pidana sebagai dakwaan primair," kata ketua majelis hakim, Herry Setyobudy didampingi Sofyan Parerungan dan Jenny Tulak selaku hakim anggota di Ambon, Selasa (1/8/2017).

Menurut majelis hakim, karena unsur-unsur dalam dakwaan primair sudah terbukti maka hakim tidak perlu membuktikan unsur-unsur dalam dakwaan subsidair yang diajukan tim jaksa penuntut umum Kejati Maluku, Dinar Hadi Crisna, Evi Hattu, serta Senia Pentury.

Dakwaan subsidair yang dimaksudkan jaksa dalam BAP adalah pasal 338 dan pasal 351 ayat (3) KUH Pidana serta pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Darurat nomor 12 tahun 1951.

Yang memberatkan terdakwa dihukum penjara seumur hidup karena dia merupakan residivis dalam kasus yang sama dan divonis 12 tahun penjara, kemudian dibebaskan secara bersyarat setelah menjalani setengah dari hukuman dimaksud.

"Perbuatan terdakwa telah meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban," tandas majelis hakim dalam amar putusannya.

Almarhum Pratu Anzar juga merupakan aset bangsa karena dia seorang anggota TNI-AD yang sedang menjalankan tugas Bawah Kendali Operasi (BKO) menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sehingga negara juga merasa kehilangan.

Majelis hakim juga menilai sikap terdakwa temperamental dan tidak menghargai nyawa orang lain.

Atas putusan tersebut, baik tim JPU maupun terdakwa dan penasihat hukumnya, Djidon Batmomolin menyatakan pikir-pikir.

Proses persidangan mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian baik yang berseragam lengkap maupun preman, dan sidang pembacaan vonis ini juga dihadiri Kapten CHK Faturahman Y selaku perwira hukum Kodam XIV Hasanuddin.

"Kehadiran saya bersama beberapa anggota TNI untuk melihat proses persidangan terakhir atas perkara ini," katanya.

Menurut Faturahman, almarhum Partu Anzar meninggalkan seorang bersama satu anaknya yang masih kecil.

Cerpen Gus Mus Penuh Makna "Gus Jakfar"


Oleh A. Mustofa Bisri 
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu. 
"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya." 
"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?' Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya." 
"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal." 
"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar." 
"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara.
"Waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi." 
"Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan. 
"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu." 
*** 
Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya. 
"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?" 
"Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah." 
"Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau." 
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut. 
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan." 
"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah." 
"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau." 
"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja. 
"Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing." 
"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk." 
'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?' 
'Kiai Tawakkal.' 
'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.' 
"Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu." 
"Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah." 
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!" 
"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka." 
"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya." 
"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang." 
"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. 
'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!' Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan". 
"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk."
"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah." 
'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya." 
"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.' 
Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara. 
'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?' 
Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak' 
Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. 
'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini." 
"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 
'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru. 
'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.' 
Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri." 
Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya. 

Rembang, Mei 2002 
A. MUSTOFA BISRI 
Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin. Dikenal sebagai penyair, pelukis, cerpenis dan kolumnis. 
“Gus Jakfar” adalah cerpen terbaik harian Kompas tahun 2004.

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Cerpen Gus Mus Penuh Makna "Gus Jakfar" : http://ift.tt/2uegMia

Inilah Para Kyai NU yang Berjasa Mendamaikan Dunia

Dishare dari Tulisan Gus Rijal Mumazziq

MusliModerat.net - Dulu, KH. Ahmad Sjaichu menggerakkan roda Konferensi Islam Asia Afrika, Maret 1965, kemudian putra tiri KH. A. Wahab Chasbullah ini menjadi Sekjen Organisasi Islam Asia Afrika. Wadah internasional yang bagus ini mulai mengkerut saat Bung Karno tidak lagi menjadi presiden RI.
Berpuluh tahun kemudian, sayap internasional NU lintas batas digerakkan oleh Gus Dur melalui World Conference on Religion and Peace (WCRP). Beliau menjadi presidennya. Secara individu, Gus Dur dengan lincah bergerak ke berbagai jaringan di luar negeri. Dia memainkan pengaruhnya dan pemikirannya, serta memperluas jaringannya.

 
Sayap internasional NU mengepak lebih jelas di era KH. Hasyim Muzadi dengan dibentuknya Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di berbagai negara. Kiai Hasyim kemudian menginisiasi pelaksanaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) beberapa angkatan, yang menghimpun para ulama dari Sunni dan Syiah moderat untuk mewujudkan perdamaian dunia.

 
Pengganti Kiai Hasyim, KH. Said Aqil Siradj punya wadah lain. Namanya International Summit Of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL). Acara yang mempertemukan ratusan delegasi ulama dari berbagai negara ini juga mencari format terbaik yang pas mewujudkan dunia yang berkeadilan. Di era Kiai Said pula, NU memiliki adik di luar negeri. Di Afganistan, ulama lintas etnis yang capek perang saudara memcari komposisi yang pas untuk mendamaikan konflik negaranya. Mereka studi banding ke PBNU, kemudian pulang ke negaranya dan memutuskan mendirikan Nahdlatul Ulama di berbagai provinsi. Mereka mengkloning NU di negaranya, menjadikan NU sebagai prototipe organisasi yang menebarkan kedamaian. NU Afganistan memang tidak punya kaitan struktural dengan PBNU, tapi NU dijadikan parameter organisatoris dan sumber inspirasi. Kini sudah berdiri 40 cabang NU Afganistan di berbagai distrik.

 
Dalam acara ISOMIL beberapa bulan yang lalu, beberapa negara di Eropa juga tertarik mendirikan NU di negaranya masing-masing, sebagaimana yang telah dilakukan para ulama Afganistan.
Pada hari ini, 26-29 Juli 2016, Habib Luthbi bin Yahya menggelar Konferensi Internasional Bela Negara dengan mengundang unsur ulama dari berbagai kawasan. Ini even kedua yang digelar oleh Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang dipimpin Habib Luthfi, setelah beberapa tahun silam menggelar Multaqa Shufi Al-'Alami.

 
Melalui berbagai perhelatan di atas, ulama NU tidak hanya berusaha menjadikan Islam sebagai ajaran universal, menggerakkan jejaring ulama Internasional, serta berusaha mengerem laju radikalisme berbaju agama, melainkan lebih dari itu, para individu NU maupun secara organisatoris bergerak dinamis mewujudkan perdamaian dunia.

 
Jika di berbagai negara di Timur Tengah para ekstremis mengudang kawan kawan seideologinya, lalu penguasa mengundang sekutunya, sehingga baku bunuh semakin parah dan negaranya nyaris hancur dan penduduknya menjadi paria, maka para ulama Indonesia beda: mereka mengundang para ulama yang berusaha menggerakkan simpul-simpul perdamaian di negara masing-masing.

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Inilah Para Kyai NU yang Berjasa Mendamaikan Dunia : http://ift.tt/2uegLe6

DPRD Maluku MInta Kapal Perintis Sebaiknya Doking Di Ambon

Ambon, Malukupost.com - Komisi C DPRD Maluku menyarankan agar setiap kapal laut yang melayani rute pelayaran perintis di daerah ini untuk doking di Ambon agar tidak terlalu memakan waktu dan biaya.
Ambon, Malukupost.com - Komisi C DPRD Maluku menyarankan agar setiap kapal laut yang melayani rute pelayaran perintis di daerah ini untuk doking di Ambon agar tidak terlalu memakan waktu dan biaya.

"Kita punya PT. Dok dan Perkapalan Wayame Ambon, jadi kalau kapal perintis yang bobotnya di bawah 1.000 GT atau 500 GT bisa memanfaatkannya untuk doking," kata anggota Komisi C DPRD setempat, Ridwan Elys di Ambon, Senin (31/7).

Penjelasan Ridwan Elys terkait adanya jadwal doking bagi semua kapal perintis yang melayani masyarakat Maluku, khususnya dari Pulau Ambon menuju wilayah-wilayah terluar dan terpencil.

Wilayah tersebut diantaranya Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Barat Daya, Kepulauan Aru, serta Kabupaten Seram Bagian Timur.

Menurut dia, kawasan ini selain terpencil dan berada di wilayah beranda nusantara juga terbentur minimnya sarana transportasi laut sehingga jadwal doking bagi semua kapal secara serentak tentunya akan menghambat pelayanan masyarakat.

"Pimpinan komisi telah membuat surat resmi kepada PT. Pelni dan pihak terkait untuk mempertanyakan rencana doking kapal-kapal perinsis secara bersamaan," katanya.

DPRD juga akan mempertanyakan kenapa setiap kapal perintis harus naik dok di luar daerah, kalau PT. Dok dan Perkapalan Wayame Ambon yang merupakan salah satu BUMD milik pemprov bisa dimanfaatkan.

Sebab perjalanan ke luar daerah untuk doking sudah memakan waktu dan anggaran, kemudian harus antri menunggu giliran sedangkan masyarakat setiap saat menunggu jadwal keberangkatan kapal.

"Bila jadwal keberangkatan kapal sudah tiba, namun kapalnya sendiri masih doking tentu akan membuat antrian masyarakat semakin banyak dan menumpuk," ujarnya. (MP-5)

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan DPRD Maluku MInta Kapal Perintis Sebaiknya Doking Di Ambon : http://ift.tt/2tZ2zKB

Tahun 2017, Kasus Anak Berhadapan Dengan Hukum di Malteng Meningkat

BERITA MALUKU. Tahun 2017 terjadi peningkatan kasus anak berhadapan dengan hukum di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), dimana hingga Juli 2017 sudah ada sembilan perkara yang kini Sementara ditangani Jaksa Pidana Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Malteng. Padahal kasus serupa tahun 2016 lalu, hanya sembilan kasus.

"Sembilan kasus anak berhadapan dengan hukum yang kita tangani hingga Juli 2017 ini, yakni kasus pencurian, kekerasan bersama antar anak dan persetubuhan anak. Ini baru bulan Juli kita sudah tangani sembilan kasus Anak. Memang tahun 2016, sembilan kasus juga kita tangani, tetapi itu dihitung setahun. Artinya dalam tahun ini tidak menutup kemungkinan ada peluang peningkatan," kata Kejari Malteng, Robinson Sitorus, melalui Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Rajesh Afifudin, Selasa (31/7/2017), di Ruang Kerjannya.

Menurutnya, kesembilan kasus itu dilakukan oleh generasi yang masih dikategori anak.

Karena itu, Sitorus berpesan kepada setiap Stakeholder di bumi Pamahanusa itu untuk selalu responsif melakukan gebrakan, agar anak dibawah umur tidak perlu berurusan dengan hukum, karena mereka harus mengenyam pendidikan dengan sempurna.

"Untuk mencegah anak-anak melakukan hal yang berkaitan dengan hukum, perlu dibutuhkan dukungan para stakeholder. Kerja dan sumbangsi mereka perlu dilakukan sehingga kasus seperti ini paling tidak angkanya menurun, bukan malah meningkat," ungkapnya.

Terindikasi Menganut Paham HTI, Dosen dan Mahasiswa UIN Malang Diancam akan Dikeluarkan

MusliModerat.net -  Buntut pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) semakin memanjang. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melalui Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Dr H Agus Maimun menegaskan akan mengeluarkan mahasiswa atau dosen di lingkungan kampus yang masih terlibat dan aktif dalam organisasi kemasyarakatan (ormas) HTI.
Keputusan itu, menurut Agus, diambil karena HTI dinilai telah menyimpang dari ideologi Pancasila dan UUD  45. Seperti diketahui masyarakat luas bahwa banyak anggota aktif HTI di lingkungan universitas, begitu juga di UIN Malang. Agus tidak menampik adanya fakta tersebut.
“Ada dua opsi yang kita berikan. Silahkan dia, mahasiswa atau dosen keluar dari HTI, dan tetap sebagai keluarga besar UIN Malang. Atau dia tetap di HTI, tapi kita keluarkan dari UIN Malang,” ungkap pria asli Kediri ini.
Namun, lanjut Agus, tentu semua itu harus melalui mekanisme yang baik. “Pertama yang kami lakukan adalah identifikasi yang cermat sehingga kita tidak asal menuduh orang, harus ada bukti-bukti yang kuat,” tambahnya.
Selanjutnya, kata Agus, diadakan pemanggilan ke pihak yang bersangkutan dengan pendekatan persuasif.
“Setelah dipanggil, akan kami tawari dua opsi tadi, ikut HTI atau keluar dari UIN Malang,” tegasnya kepada wartawan MalangTimes, Senin (31/7/2017).
Seperti diketahui, kebijakan yang sama juga akan dilakukan oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN-RB) dan Kementrian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) yang mengancam akan mengeluarkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang terbukti terlibat jaringan HTI.
Meskipun kebijakan ini belum dituangkan dalam ketentuan formal berupa peraturan pemerintah atau peraturan menteri namun langkah taktis akan mulai dilakukan yakni dengan mendata PNS atau dosen yang terindikasi tetap mengikuti dan menyebarkan paham HTI.
Kebijakan ini kabarnya diinformasikan kepada seluruh kepala pemerintah daerah melalui surat edaran khusus dari Kemenpan-RB yang isinya meminta agar mendata semua staf yang menjadi tanggungjawabnya sekaligus menelusurinya apakah yang bersangkutan terlibat HTI atau tidak.  - Jatimtimes.com

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Terindikasi Menganut Paham HTI, Dosen dan Mahasiswa UIN Malang Diancam akan Dikeluarkan : http://ift.tt/2tTzLix

Search

Featured Post

5 Negara yang Terkenal akan Street Food Nikmat Mereka - IDN Times

Berwisata ke luar negeri tak lengkap rasanya jika tidak mencoba berbagai hal yang khas dari negara tersebut. Mulai dari tempat wisata , b...

Postingan Populer